HEADLINE
Dark Mode
Large text article

Universitas Terbuka Perkuat Sekolah Anti Bullying dan Lingkungan Ramah Anak di Desa Tegal melalui FGD Program EQUITY


Bogor, RedMOL.id - Komitmen dalam membangun lingkungan belajar yang aman, inklusif, bebas perundungan (bullying), dan ramah anak terus diperkuat oleh Universitas Terbuka melalui Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Nasional Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Komitmen tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) dan Diseminasi Hasil PKM Program EQUITY di Desa Tegal, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan ekosistem pendidikan berbasis kolaborasi yang melibatkan pemerintah desa, lembaga pendidikan, organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, serta masyarakat dalam menciptakan ruang belajar yang aman dan mendukung tumbuh kembang anak.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Sekretaris Desa Tegal, kepala sekolah SD dan PAUD, pengurus yayasan pendidikan, Ketua KNPI Kecamatan Kemang, Ketua dan pengurus MUI Kecamatan Kemang, Ketua HIMPAUDI Kecamatan Kemang, serta sejumlah perwakilan masyarakat.

Tim PKM Nasional FKIP Universitas Terbuka dipimpin oleh Dr. Dony Darma Sagita dengan anggota Dr. Mudayat, Dr. Ahmad Syaikhu, Uliya Khoirun Nisa, Novi Tri Astuti, dan Sari Wardani Simarmata.

Diseminasi Capaian Pengabdian Tiga Tahun

Dalam sesi diseminasi, Dony Darma Sagita memaparkan berbagai capaian program pengabdian yang telah dilaksanakan selama tiga tahun terakhir di Desa Tegal sebagai desa binaan Universitas Terbuka. Berbagai program tersebut meliputi pengembangan pojok baca di sekolah-sekolah, penguatan literasi anak, parenting positif, pendampingan penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH) bagi guru PAUD, penguatan implementasi Kurikulum Merdeka, hingga program peningkatan kapasitas guru dan keluarga.

Menurut Dony, keberhasilan program pengabdian tidak hanya diukur dari jumlah kegiatan yang terlaksana, tetapi juga dari kemampuan membangun kolaborasi dan keberlanjutan program di tengah masyarakat.

"Pengabdian kepada masyarakat harus hadir sebagai proses pendampingan yang berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan sesaat. Di Desa Tegal, kami melihat adanya komitmen kuat dari pemerintah desa, sekolah, guru, tokoh masyarakat, dan warga untuk bersama-sama meningkatkan kualitas pendidikan anak," ujarnya.


Pemerintah Desa Apresiasi Kontribusi UT

Sekretaris Desa Tegal, Jayadi, menyampaikan apresiasi terhadap kontribusi Universitas Terbuka melalui berbagai program PKM yang telah dilaksanakan selama tiga tahun terakhir.

Menurutnya, program-program yang dijalankan mampu menjawab kebutuhan masyarakat, khususnya dalam bidang pendidikan, pengasuhan anak, dan penguatan kapasitas pendidik.

"Kami menyampaikan terima kasih kepada Universitas Terbuka dan LPPM UT. Program ini memberikan dampak positif bagi masyarakat Desa Tegal dan kami berharap kerja sama ini dapat terus berlanjut serta dikembangkan pada masa mendatang," kata Jayadi.

FGD Program EQUITY: Membangun Sekolah Aman dan Inklusif

Pada sesi Focus Group Discussion Program EQUITY, peserta memperoleh penguatan materi dari narasumber Dr. Randi Saputra yang membawakan tema "Pencegahan Perilaku Bullying: Membangun Sekolah Aman dan Inklusif".

Dalam paparannya, Randi menjelaskan bahwa praktik bullying dapat terjadi dalam berbagai bentuk, mulai dari kekerasan fisik, verbal, sosial, hingga perundungan digital. Karena itu, upaya pencegahan harus dilakukan secara sistematis dengan melibatkan seluruh elemen pendidikan dan masyarakat.


Ia menekankan pentingnya membangun sistem perlindungan anak di sekolah, memperkuat komunikasi positif, menanamkan pendidikan karakter, serta meningkatkan keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam pengawasan serta pendampingan anak.

Diskusi berlangsung dinamis dengan berbagai masukan dari peserta yang berasal dari unsur HIMPAUDI, MUI, sekolah dasar, PAUD, yayasan pendidikan, KNPI, dan masyarakat. Para peserta menilai bahwa gerakan sekolah anti bullying harus menjadi agenda bersama yang dijalankan secara konsisten mulai dari lingkungan keluarga hingga institusi pendidikan.

Penguatan materi berikutnya disampaikan oleh Agung Tri Prasetya. Ia menjelaskan bahwa pembangunan lingkungan ramah anak memerlukan dukungan psikologis yang kuat, baik bagi peserta didik, pendidik, maupun orang tua.

Menurutnya, anak membutuhkan ruang belajar yang tidak hanya aman secara fisik, tetapi juga mampu memberikan rasa diterima, dukungan emosional, serta perlindungan dari berbagai bentuk kekerasan dan diskriminasi.

Pada akhir kegiatan, peserta berharap kolaborasi antara Universitas Terbuka dan Pemerintah Desa Tegal dapat terus diperkuat, khususnya dalam bidang pendidikan, kepemudaan, keagamaan, kesehatan masyarakat, pendampingan guru, serta pemberdayaan keluarga.

Tim PKM FKIP Universitas Terbuka turut menyampaikan apresiasi kepada LPDP melalui Program PKM EQUITY yang telah memberikan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut sehingga dapat berjalan dengan baik dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

"Kami berharap gerakan membangun sekolah yang aman, inklusif, dan ramah anak tidak berhenti pada forum diskusi, tetapi menjadi komitmen bersama yang terus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari," ujar salah satu peserta FGD. "ISB"

Post a Comment
Close Ads
Floating Ad Space