Tanpa Kembang Api, Pemprov DKI Pilih Musik dan Doa Lintas Agama Sambut Tahun Baru 2026 di Bundaran HI.
Jakarta, RedMOL.id - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menetapkan Bundaran Hotel Indonesia (HI) sebagai panggung utama perayaan malam pergantian Tahun Baru 2026. Sejak sore hari, kawasan Monumen Selamat Datang dipadati warga yang datang dari berbagai penjuru, sementara akses kendaraan bermotor ditutup total guna mengantisipasi lonjakan massa.
Perayaan tahun ini mengusung tema “Jakarta Global City, From Jakarta With Love”. Berbeda dari tradisi sebelumnya, Pemprov DKI secara tegas meniadakan pesta kembang api. Sebagai gantinya, publik disuguhi rangkaian hiburan musik, pertunjukan video mapping, atraksi drone, hingga doa lintas agama yang diklaim merepresentasikan wajah Jakarta sebagai kota global yang inklusif dan beradab.
Pantauan di lapangan menunjukkan aktivitas ekonomi informal tumbuh seiring keramaian. Pedagang musiman menjajakan tikar, balon, terompet, serta makanan dan minuman di sepanjang akses menuju Bundaran HI. Penutupan jalan memberi ruang bagi pejalan kaki dari sedikitnya enam titik akses menuju panggung utama, meski kepadatan mulai terasa menjelang malam.
Di panggung utama, sejumlah musisi nasional dijadwalkan tampil, di antaranya d’Masiv dan Marion Jola. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung beserta jajaran pejabat daerah dijadwalkan hadir untuk menyapa warga. Selain Bundaran HI, Pemprov DKI juga menyiapkan tujuh titik panggung hiburan lain yang tersebar di Jakarta, dengan agenda doa bersama yang turut dipersembahkan bagi para korban bencana di Sumatera.
Persiapan acara telah dilakukan sejak beberapa hari sebelumnya. Panggung utama dengan konstruksi rangka besi dan layar LED raksasa mulai didirikan sejak 29 Desember, lengkap dengan tribun VIP untuk tamu undangan. Aparat gabungan TNI-Polri dan petugas pemerintah daerah disiagakan untuk pengamanan, sementara fasilitas pendukung disiapkan untuk menampung ribuan pengunjung.
Kebijakan tanpa kembang api ini memantik beragam respons publik. Di satu sisi, langkah tersebut dipandang sebagai simbol kepedulian lingkungan dan empati sosial. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan tentang konsistensi Pemprov DKI dalam menjaga keseimbangan antara perayaan, keamanan, dan hak masyarakat atas ruang publik yang aman dan tertib.
“Konsep ini kami pilih agar perayaan tetap meriah, namun lebih bermakna dan mencerminkan nilai kebersamaan,” ujar seorang pejabat Pemprov DKI Jakarta. "Canga"/*