Ketika Aku Ditindas": Bongkar Mitos Penindasan Perempuan Bukan Takdir – Bukti Sejarah Bicara
February 06, 2026
Denpasar Bali, 6/2/2026, Redmol. Id
Penindasan perempuan bukan "takdir biologis" seperti klaim bigot seksis. Situs Catalhoyuk di Anatolia, Turki – kota Neolitikum terbesar 9.000 tahun lalu dengan 10.000 jiwa – justru bukti egaliter: pria dan wanita makan makanan sama, kerja serupa, dan status sosial setara, tanpa hierarki patriarkal.
Arkeolog Stanford Ian Hodder temukan dari lukisan dinding, patung, dan kuburan: "Wanita dan pria hidup mirip, kerja mirip, status sosial sama."
Ini bukan kasus tunggal; masyarakat Haudenosaunee (Iroquois) Amerika Utara beri kekuasaan veto pada ibu klan atas pemimpin pria, sementara Minangkabau Sumatera – hingga kini – turunkan harta via garis perempuan.
Lalu, kapan berubah? Friedrich Engels dalam Asal Keluarga, Kepemilikan Pribadi, dan Negara (1884) jawab: revolusi agraria 10.000 tahun lalu ciptakan surplus, alihkan produksi ke pria (bajak berat, ternak), lahirkan kepemilikan pribadi dan kelas.
"Ini 'kekalahan dunia-sejarah seks perempuan': monografi monogami kuasai warisan harta, wanita dikucilkan dari produksi sosial."
Di Indonesia, feminis sosialis seperti Gerwani (pra-1965) telusuri akar serupa: segregasi privat-publik sejak barbarisme, perempuan didominasi seksual dan domestik.
Kapitalisme perburuk: wanita jadi buruh murah plus pelayan gratis, rantai penderitaan tak henti.